7.26.2017

Bicara: Depresi

Halo semua. Akhirnya setelah lumayan lama hiatus nulis, balik lagi nih aku. Karena udah masuk masa masa rada tenang perkuliahan (red: nggak ada kelas), setelah tulisan ini bakal ada beberapa tulisan lagi yang bakalan muncul di blog. Biar ga sepi dah.

Kalian yang paham istilah selebgram pastilah tau berita yang lagi naik banget akhir ini. Iya itu, salah satu mantan seorang selebgram meninggal tiba tiba dan allegedly attempted a suicide act, perlu digaris bawahi ya allegedly-nya. Emang mungkin dasarannya orang Indonesia yang kalau udah kepo, apapun deh dijabanin biar berita tuh dapet yang bener bener nggak ngarang dan alhasil kebuka deh satu satu masalah dari mantan si selebgram ini. Aku juga orangnya gabut ya, gabut sama kepo sih, akhirnya juga ngikutin lah “perkembangan” berita dan info yang ada. Dari intinya sih, yang meninggal sempat depresi dan nggak melakukan suicide act sama sekali. Juga tentang vokalis salah satu band terkenal yang ditemukan meninggal gantung diri dan juga sempat depresi.


Kalau kita bicara penanganan kesehatan mental di Indonesia, nggak bisa dibilang juga kalau penanganannya masih jelek ataupun bagus. Tapi kalau kita bicara masalah pandangan orang Indonesia (lagi lagi) terhadap kesehatan mental, bisa dibilang masih dilihat sebelah mata lah bahkan kadang nggak dilihat sama sekali.

Masih banyak banget orang Indonesia beranggapan kalau gangguan kesehatan mental itu cuman ada satu jenis, yaitu gila atau hilang akal. Kalaupun ada yang terbuka dengan gangguan yang dialami, respon yang didapat pun kalau nggak menyangkut agama ya respon lainnya yang kalau dipikir lucu aja gitu.

Informasi aja, gangguan kesehatan mental atau mental health disorder itu nggak cuman hilang akal aja. Banyak banget macamnya dan banyak banget symptom-nya. Seperti yang lagi banyak dibicarakan sekarang, depresi.

Depresi itu apa sih? Perasaan ga bahagia kah? Perasaan sedih kah? Perasaan tertekan kah? Atau gimana?

Depresi itu semua yang ditanyakan diatas. Depresi itu nggak lagi ngelakuin hal yang kamu suka, karena bagimu udah nggak ada gunanya. Depresi itu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan ada di dalam ruangan atau rumah, karena kalau keluar itu berat banget buat dilakuin. Depresi itu bangun pagi penuh semangat lalu malamnya takut buat tidur. Depresi itu ngelakuin kegiatan seperti biasa, tanpa semangat, tanpa tujuan. Depresi itu menyalahkan dirimu setiap hari. Depresi itu berusaha untuk menyakiti dirimu sendiri, karena itu lebih baik daripada meringkuk dalam kamar dan semua energimu diserap buat hal yang namanya depresi. Depresi itu Dementor‘s Kiss yang ada di Harry Potter, yang bikin kamu merasa rendah banget dan perlahan tapi pasti bakal bikin kamu kehilangan nyawa. Depresi itu gampangnya, kamu kehilangan dirimu.

Sampai saat ini bisa dibilang symptom dari depresi itu masih rancu untuk langsung dikenali dan ditangani. Bahkan kadang baru ketahuan atau ditanganin waktu udah masuk fase mild-depression. Ada beberapa kasus, kadang hal hal yang kita rasakan itu, nggak bisa langsung kita simpulkan sebagai depresi. Karena nyatanya, orang yang ngalamin depresi pun, kadang nggak tau dan nggak paham dia itu kenapa.

Itupun juga berlaku sama penanganan terhadap depresi itu sendiri. Perlu diketahui kalau setiap orang penanganan dan daya tahannya terhadap depresi itu beda beda. Tapi yang pasti satu sih, jangan pernah merasa kalau dengan merasa lebih senang atau lebih bersyukur dengan hidup dan “wejangan“ lainnya depresi bakal berhenti gitu aja. Ini nih yang aku bilang lucu. Lagian juga orang depresi itu keinginan untuk ada atau exist di dunia aja udah rendah banget, kenapa malah disuruh melakukan hal yang udah diluar jangkauannya. Lagi lagi kan lucu.

Jadi gimana sih cara yang beneran ampuh buat orang yang ngalamin depresi? Aku nggak bisa bilang ini hal yang tepat atau manjur, karena lagi lagi setiap orang beda. Tapi satu yang pasti, jangan men-judge. Jangan merasa kalian yang paling tau tentang keadaan penderita jangan merasa kalian bisa relate dengan apa yang dialamin pendrita, believe it or not, kalian nggak bisa relate sama sekali. Jangan pernah kalian ngerasa dengan membawa orang lain dalam percakapan depresi dengan penderita, karena ini udah masalah internal diri orang itu, yang namanya hubungan dengan eksternal (red: orang sekitar bahkan alam) itu udah diputus sama mereka sendiri. Bisa dibilang tricky banget kalau udah berurusan dengan orang yang ngalamin depresi, yang perlu diinget satu aja, don’t judge them and be there for them. Apalagi kalau udah sampai ke tahap suicidal, ini bener bener tricky sih, kalau aku bilang kalian sebagai orang yang dipercaya ataupun ada dan paham masalah depresi tersebut, jangan cuman mengarahkan ke jalan yang benar, analoginya penderita ini yang berenang, depresi tuh gelombang pasang, udah gelombang pasang, berenang sendiri, yaudah selesai aja berenangnya, capek coy. Nah terus gimana dong? Kalau dianalogikan lagi, ya jangan jadi penunjuk arah aja buat sampai ke daratan, jadi life guard, langsung berenang, nyemplung, berenang bareng. Intinya jangan setengah setengah lah kalau udah berhadapan sama penderita depresi dengan suicidal thoughts-nya. Bakal menyesal.

Aku nggak bisa bilang hal hal diatas itu konkrit, karena lagi lagi tiap orang beda. Everybody has their own demon. Don’t be the demon.

Intinya sih jangan anggap kalau depresi itu hal yang gampang dilaluin, gampang disembuhin, dan gampang untuk ditangani.

Sebenernya banyak banget yang masih mau aku bicarain, seperti jenis mental health disorder dan penjelasannya masing-masing. Mungkin di tulisan selanjutnya ya, tapi juga bakal terbatas sih yang diomongin, karena nggak bisa semuanya diomongin secara bebas kecuali pernah merasakan ataupun penderita.

Semoga dengan munculnya isu seperti ini, Indonesia bakal lebih memperhatikan kesehatan mental warganya dan juga nggak memandang sebelah mata tentang masalah ini. Karena penderita pun nggak bisa dianggap less human than the other who is not suffering to this. Se bebal apapun cara pikir kita, se egois itu pikiran kita, kita masih berharap banget untuk ditolong.

Cheers

-

Indonesia’s Suicide Hotlines
500-454 (Call)

Indonesian NGO
Jangan Bunuh Diri
Phone: 021 9696 9293

Other organization
@saveyourselves.id and @ibunda_id (Instagram)

I hope these information will help anyone who needs it

-

Notes:
  1. This writing is based on writer experience on depression, again, everybody has their own demon
  2. Writer has been struggling with OCD, mild-depression, anxiety, and panic attacks

No comments: